Amazing INDONESIA

Rabu, 07 September 2011

PORIFERA

Kali ini saya akan menguraikan mengenai organisasi hewan bersel banyak atau diistilahkan dengan metazoa (bersel banyak). Setelah menguraikan tingkat protoplasma yaitu phyllum protozoa maka sekarang kita akan masuk ke dalam phyllum PORIFERA. Porifera merupakan metazoa yang paling sederhana. Tubuh porifera masih diorganisasikan pada tingkat seluler, artinya tersusun atas sel-sel yang cenderung bekerja secara mandiri, masih belum ada koordinasi antara sel satu dengan sel yang lainnya. Kata “Porifera’berasal dari kata Latin, pori = lubang-lubang kecil dan faro=  mengandung, membawa. Kata tersebut menunjukkan kekhususan hewan yang bersangkutan, yaitu memiliki banyak lubang-lubang kecil dan bila disingkat cukup disebut: Hewan berpori. Bila dibandingkan dengan susunan tubuh Protozoa maka susunan tubuh Porifera lebih kompleks. Sebab tubuhnya tidak lagi terdiri dari satu sel saja tetapi telah tersusun atas banyak sel. 

Ciri-ciri Porifera:
  1. Tubuh berpori, yang merupakan awal dari sistem kanal (saluran air) yang menghubungkan daerah eksternal dan internal.
  2. Habitat di laut dan melekat pada dasar.
  3. Tidak memiliki apendiks namun memiliki spikula sebagai rangka/penyokong.
  4. Belum memiliki saluran pencernaan. Pencernaan dilakukan secara intrasel oleh sel leher atau koanosit. 
  5. Reproduksi berlangsung secara aseksual melalui pembentukan kuncup dan seksualnya dengan pertemuan antara ovum dan sperma. 
  6. Bersifat hermafrodit (berkelamin ganda), ovum dihasilkan oleh sel amoebosit sedang sperma oleh koanosit.
 
STRUKTUR TUBUH

Menurut susunan tubuhnya Porifera dibagi menjadi 3 tipe, yaitu Ascon, Sycon/Scypha, dan Rhagon, Ascon sendiri merupakan tipe yang paling sederhana. Bentuk tubuh hewan ini seperti piala atau jambangan bunga. Salah satu ujungnya melekat pada dasar laut dan ujung satunya bebas dan berupa lubang besar yang disebut osculum. Pada bagian dinding tubuhnya terdapat lubang-lubang kecil yang disebut  porosofil atau pori dan sering juga disebut  ostium. Melalui Ostium ini air dapat mengalir masuk ke dalam rongga di dalam tubuhnya yang disebut  paragaster. Dari paragaster ini air kemudian mengalir keluar melalui osculum.   

Dinding tubuh tersusun atas dua lapis yaitu: 
  • lapis luar (lapisan epidermis/epithelium dermal). Tetapi menurut Laubenfels (Radipoetro, 1996: 181) sel-sel ini bukanlah sel-sel epithelium yang sebenarnya. Mereka disebut juga dengan pinacocyt  dan kadang-kadang tiap sel mempunyai satu flagellum.
  • Lapisan selanjutnya yang melapisi dinding paragaster ialah choanocyt yang terdiri dari jajaran sel-sel leher yang berbentuk botol yang memiliki satu flagellum. Pangkal flagellum ini dikelilingi oleh suatu bangunan seperti leher baju yang disebut collare. Di dalam protoplasma dari choanocyt –choanocyt terdapat vacuolae.
Di antara lapisan epithelium dermal dan choanocyt terdapat selapis benda gelatin. Di dalam benda gelatin itu terdapat (a) Porocyt /sel pori, satu porocyt  dikelilingi oleh beberapa  myocyt yang berfungsi membuka dan menutup pori. (b) Amoebocyte, yang merupakan sel yang dapat bergerak bebas dan berfungsi mengedarkan zat-zat makanan ke sel lainnya, dan menghasilkan gelatin. (c) Scleroblast  yang berfungsi membentuk spicula (kerangka tubuh). (d) Archeocyt merupakan sel amoebosit embrional yang tumpul dan dapat membentuk sel-sel lainnya misalnya sel-sel reproduktif.

FISIOLOGI (Fungsi Aliran Air, Digesti/pencernaan, Pernafasan, Ekskresi, Reproduksi)

Bila dipandang begitu saja porifera ini terlihat seperti benda mati saja yang diam tanpa mengadakan aktivitas. Tetapi bila diamati secara seksama, di dalam tubuhnya terjadi kegiatan yang luar biasa, di mana flagella dari sel-sel choanocyt giat mengadakan gerak penyapuan untuk menimbulkan aliran air, aliran yang mempunyai arti yang sangat vital bagi kelangsungan hidupnya. Fungsi utama aliran air ini ialah sebagai sarana dalam penyelenggaraan pertukaran zat dari daerah eksternal ke dalam daerah internal dan sbaliknya. Adapun  zat yang dipertukarkan adalah partikel-partikel makanan dan oksigen, zat-zat sisa metabolisme dan CO2.
Di samping itu aliran air terutama dari daerah internal juga berfungsi sebagai sarana dalam pengeluaran benda-benda reproduktif yang erat hubungannya dengan proses perkembangbiakan serta penyebaran generasi. Porifera bersifat holozoik  maupun saprozoik. Makanan Porifera berupa mikroorganisme diatomae, bakteri protozoa, dll serta bahan organic  yang merupakan lapukan atau sisa-sisa tubuh organisme yang telah mati.  Adapun  mekanisme digesti, distribusi, tersebut adalah sebagai berikut:
Bila aliran air yang membawa partikel-partikel makanan itu melewati ruangan  yang bersel choanocyt maka disitu terjadi penyaringan, dimana mikrofili-mikrofili sel leher yang bertugas menyaring material yang dibawa arus aliran air tadi. Selanjutnya partikel-partikel makanan yang dimaksud akan ditangkap oleh sel choanocyt untuk dimasukkan ke dalam daerah internalnya yaitu vakuola makanan. Di dalam vakuola makanan partikel tersebut  dicerna oleh enzim karbohidrase, proteas dan lipase. Selanjutnya dari sel sel choanocyt dipindahkan ke  sel-sel amoebocyt yang berpangkal di dekat sel leher. Oleh sel-sel amoebocyt itu partikel-partikel  makanan akan diedarkan ke seluruh penjuru tubuh. Partikel makanan yang tidak mengalami proses  pencernaan secara tuntas ketika masih di dalam sel leher maka akan dituntaskan proses pencernaannya ketika berada di dalam sel amoebocyt. Zat-zat makanan yang tidak dapat dicernakan baik oleh sel leher  maupun amoebocyt akan ditolak keluar yang selanjutnya diikutkan aliran air di bawa keluar melalui oskulum.
Porifera tidak mempunyai alat atau organ pernafasan khusus, sehingga system pernafasannya berlangsung secara aerobic. Dalam hal ini yang berfungsi menangkap oksigen yang terlarut di dalam air khususnya di lapisan eksternal tubuhnya ialah sel-sel epidermis (sel pinacocyt), sedangkan pada bagian internalnya/dalam yang bertugas menangkap oksigen adalah sel-sel choanocyt. Selanjutnya oksigen yang telah ditangkap oleh kedua jenis sel tersebut diedarkan ke seluruh penjuru tubuh oleh sel-sel amoebocyt.
Porifera belum memiliki alat khusus untuk mengeluarkan zat-zat sampah yang merupakan sisa metabolisme.  Dalam penelitian ternyata zat-zat sampah yang berupa butir-butir itu dikeluarkan dari daerah internal tubuhnya oleh sel-sel amoebocyt.
Perkembangbiakan porifera berlangsung secara aseksual dan seksual. Aseksual dengan membentuk kuncup, dan seksual dengan peleburan gamet.  Baik ovum maupun sperma berasalari perkembangan sel amoebocyt khusus yang disebut  archeocyt. Sel ini ditemukan di dalam daerah mesoglea

KLASIFIKASI PORIFERA

Berdasarkan bahan pembentuk tubuhnya, Porifera dibagi menjadi 3 kelas, yaaitu:
  1. Calcarea, rangka/skeletonnya tersusun dari zat kapur (CaCO3). Hidup di daerah pantai yang dangkal. Contohnya;  Clathrina blanca, Sycon gelatinosum, Grantia, dll 
  2. Hexatinellida, rangkanya tersusun dari bahan silikat /zat kersik. Satu spikula terdiri atas tiga batang yang saling silang-menyilang secara tegak lurus, sehingga ada enam jari-jari atau radii. Spikula tersebut disebut  triaxon  (tri= tiga; axis=sumbu; hexa=enam; actis= radius). Contoh: Pheronema spec, Euplectella, Hyalonema, dll 
  3. Demospongia, merupakan porifera yang tidak memiliki skeleton atau hanya mempunyai serabut-serabut sponging atau serabut-serabutspikula silikat.  Contohnya:Spongilla, carteri, Euspongia officinalis, 
Peranan Porifera bagi kehidupan 

Keberadaan Porifera dalam ekosistem tidak merugikan manusia, namun manfaat yang diperoleh masih sangat sedikit. Spongia sp, oleh manusia dijadikan bahan gosok mandi dan pembersih kaca. Namun bagi beberapa hewan air laut, peranan porifera sangat besar. Mereka memanfaatkan rangka porifera sebagai tempat berlindung serta melindungi telur-telurnya dari pemangsa.

Sumber. Zoologi Invertebrata (Jasin), Zoologi ( Radiopoetra).
    Tag:
    phyllum porifera, ciri-ciri porifera, struktur poriferaporifera, reproduksi porifera, ciri-ciri porifera, kelas-kelas porifera berdasarkan tipe salurannya, tipe Ascon, sycon dan leucon, Calcarea, Hexactinellida, dan Demospongia. manfaat, peranan dan fungsi porifera.



    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More