All About Science

Tampilkan postingan dengan label Ekologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2013

Barotrauma (Tuli akibat perubahan tekanan udara)

Pernah tidak anda mengalami 'tuli' sesaat saat berada di pesawat terbang atau anda merasakan telinga anda seperti tersumbat atau saat anda sedang menyelam maupun saat sedang terjun payung?
Dalam istilah medisnya kondisi seperti itu disebut Barotrauma atau trauma akibat adanya perubahan tekanan terhadap tubuh. Sederhananya, suatu cedera yang timbul karena adanya perubahan tekanan. Gangguan ini sering terjadi saat Anda berada di pesawat terbang atau melakukan scuba diving dengan hidung tersumbat, alergi, salesma, atau menderita infeksi tenggorakan. Kemungkinan anda merasa sakit di salah satu telinga, sedikit kehilangan pendengaran atau rasa tersumbat di kedua telinga. Ini disebabkan karena menggelembungnya  gendang telinga akibat adanya perubahan tekanan udara.

Cobalah menelan obat dekongestan (pelega hidung) satu jam sebelum terbang dan satu jam sebelum mendarat. Ini dapat mebantu untuk mencegah tersumbatnya tabung eusthacius anda. Kalau kedua telinga anda tersumbat waktu pesawat turun, hiruplah napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan-lahan sambil menutup kedua lubang hidung dan mengatupkan mulut anda. Akan lebih menolong lagi kalau saat itu anda bisa sekaligus melakukan gerakan menelan. Selama penerbangan, sebaiknya kunyah permen karet untuk menimbulkan gerakan menelan yang bisa membantu membuka tabung eusthachius anda.



Semoga bermanfaat,
Sumber: Mayo Clinic, 2002, Intisari Mediatama.

Tags: Pengertian barotrauma,Arti dari barotrauma,Cara mengatasi barotrauma,Mengapa orang bisa terkena barotrauma,Hilangnya pendengaran saat di pesawat,Tuli di pesawat,Telinga seperti tersumbat udara,Cara engatasi telinga yang seperti tersumbat udara,Telinga tersumbat karena perubahan tekanan udara.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Suksesi

Konsep Suksesi

Istilah suksesi pertama kali digunakan oleh Hult  pada tahun 1885 dalam studi tentang perubahan pada komunitas. Mengenai dasar studi sukses itu sendiri dicetuskan oleh Cowles  pada tahun 1899, sedangkan prinsip-prinsip dan teori suksesi dikemukakan secara mendalam dan seksama oleh Clements pada masa setelah Cowles, yaitu tahun 1907.

Beberapa pengertian tentang istilah suksesi dikemukan sebagai berikut:

  • Suksesi, yaitu perubahan langsung secara keseluruhan pada selang waktu waktulama, bersifat kumulatif, di dalam komunitas  tertentu dan terjadi pada tempat yang sama.
  • Suksesi, yaitu proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah, berlangusng lambat, secara teratur, pasti, dan dapat diramalkan.
  • Suksesi, yaitu perubahan dalam komunitas ang berlangsung secara teratur dan menuju ke satu arah
  • Suksesi, yaitu proses perubahan yang terjadi dalam komunitas atau ekosistem yang menyebabkan timbulnya penggantian dari satu komunitas atau ekosistem oleh komunitas atau ekosistem yang lain
Berikut ini merupakan beberapa terminologi yang berkaitan dengan suksesi, yaitu:
  1. Sere adalah serangkaian perubahan dalam komunitas atau ekosistem yang dapat diidentifikasi selama suksesi.
  2. Seral adalah masing-masing tingkat perubahan komunitas atau ekosistem dalam suksesi.
  3. Suksesi primer adalah suksesi yang terjadi di atas lahan atau wilayah ang mula-mula gundul atau terbuka.
  4. Prisere adalah serangkaian perubahan dalam komunitas atau ekosistem yang dapat diidentifikasi selama terjadi suksesi primer. Presire sering dipakai untuk menyebut suksesi primer.
  5. Suksesi sekunder adalah suksesi yang terjadi pada lahan atau wilayah yang pada awalnya bervegetasi lengkap sempurna, kemudian mengalami kerusakan oleh bencana seperti peletusan vulkanik, banjir, tanah longsor, gempa bumi, atau kebakaran, tetapi bencana itu tidak sampai merusak tempat tumbuh secara keseluruhan sehingga tempat tersebut masih ada substrat lama dan organisme hidup.
  6. Subsere adalah serangkaian perubahan dalam komunitas atau ekosistem yang dapat diidentifikasi selama terjadi suksesi sekunder. Subsere itu sendiri sering dipakai untuk menyebut suksesi sekunder.
  7. Hydrach adalah suksesi yang terjadi dalam wilayah perairan.
  8. Hydrosere adalah serangkaian perubahan dalam komunitas atau ekosistem yang dapat diidentifikasi di wilayah periran 
  9. Xerarch adalah suksesi yang terjadi pada wilayah yang bersubstrat kering.
  10. Xerosere adalah serangkaian perubahan dalam komunitas atau ekosistem yang dapat diidentifikasi di wilayah yang bersubstrat kering.
  11. Lithosere adalah serangkaian perubahan dalam komunitas yang dapat diidentifikasikan selama suksesi di lahan berbatu.
  12. Psamosere adalah serangkaian perubahan dalam komunitas ang dapat diidentifikasi selama suksesi di lahan berpasir.
  13. Halosere adalah serangkaian perubahan dalm komunitas yang dapat diidentifikasi selama suksesi pada substrat yang mengandung garam.
  14. Klimkas adalah kondisi komunitas atau ekosistem akhir pada proses suksesi yang telah mencapai homeostatis
Konsep yang menyatakan bahwa suksesi berlangsung secara teratur, pasti, terarah, dapat diramalkan, dan berakhir dengan komunitas klimaks, merupakan konsep lama yang umumnya masih diikuti dan diterima. dari konsep tersebut dapat dinyatakan bahwa suksesi ekologi menuju kepada perkembangan suatu komunitas atau ekosistem.

Perubahan-perubahan selama Proses Suksesi

Selama proses suksesi akan terjadi perubahan yang mengarah kepada perkembangan atau kemajuan kondisi habitat yang mendukung terbentuknya komunitas baru. Beberapa perubahan itu antara lain:
  1. Adanya perkembangan sifat substrat (tanah)
  2. Adanya peningkatan densitas, tinggi tumbuhan, dan struktur komunitas yang semakin kompleks
  3. Adanya peningkatan produktivitas komunitas sejalan dengan perkembangan sifat substrat
  4. Adanya peningkatan jumlah spesies organisme sampai tahap tertentu dalam proses suksesi
  5. Adanya peningkatan pemanfaatan sumber daya lingkungan sesuai (sejalan) dengan peningkatan jumlah spesies organisme
  6. komunitas berkembang menjadi lebih kompleks
Kecepatan proses suksesi pada setiap habitat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu
  1. Luasnya komunitas awal yang rusak oleh adanya gangguan
  2. Spesies-spesies tumbuhan yang terdapat di sekitar tempat terjadinya suksesi
  3. Sifat-sifat setiap spesies tumbuhan ada di sekitar tempat terjadinya suksesi
  4. Kehadiran bakal kehidupan (biji, buah, spora, dan lain-lain)
  5. Jenis substrat baru yang terbentuk
  6. Kondisi iklim
Tipe-Tipe Suksesi

Berdasarkan pada kondisi komunitas awal yang ada di suatu daerah maka suksesi dibedakan menjadi:
  • Suksesi primer. Bila ekosistem mengalami gangguan yang berat sekali, sehingga komunitas awal (yang ada) menjadi hilang atau rusah total, sehingga menyebabkan di tempat tersebut tidak ada lagi yang tertinggal dan akibatnya terjadilah habitat baru.
  • Suksesi sekunder. Prosesnya sama dengan yyang terjadi pada suksesi rimer. perbedaannya adalah pada keadaan kerusakan ekosistem atau kondisi awal habitatnya. Ekosistem tersebut mengalami gangguan akan tetapi tidak total, masih ada komunitas yang tersisia.
Berdasarkan kepada jenis habitat atau substrat maka suksesi dapat dibedakan menjadi suksesi daerah batuan, suksesi daerah perairan, suksesi daerah pasir, suksesi daerah tanah liat, dan lain-lain.

Sumber:

Irwan,Z.D. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi : Ekosistem, Libgkungan, dan Pelestariannya. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara
Indriyanto.2006.Ekologi Hutan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

Tags: pengertian suksesi,konsep suksesi, proses terjadinya suksesi, perubahan-perubahan selama terjadinya suksesi, faktor-faktor yang mempengaruhi laju suksesi, jenis-jenis suksesi

Sabtu, 07 Juli 2012

Interaksi Antar Spesies

Tipe-Tipe Interaksi Antar Spesies

Secara teori, spesies-spesies anggota populasi saling berinterkasi satu dengan lainnya dan membentuk interaksi yang positif, negatif, netral, atau kombinasi yang bentuk interkasi itu dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu neutralisme, kompetisi, amensalisme, parasitime, predasi (pemangsaan), komensalisme, protokooperasi, dan mutualisme. 
  1. Neutralisme, yaitu interkasi antara dua atau lebih spesies yang masing-masing tidak terpengaruh oleh adanya asosiasi. Contoh, antara kucing dan ayam. Keduanya tidak saling mempengaruhi karena memiliki jenis makanan yang berbeda.
  2. Kompetisi, jenis interaksi ini dapat terjadi diantara makhluk hidup yang dapat menimbulkan seleksi alam dalam evolusi. Antara organisme yang satu dengan yanga lain terjadi persaingan untuk memperoleh kebutuhan hidupnya, seperti makanan, cahaya matahari, tempat berlindung dan sebagainya. Contoh, persaingan antara kambing dan kerbau di padang rumput dan persaingan rumput teki dan ilalang dalam memperebutkan sinar matahari atau lahan.
  3. Amensalisme, yaitu interaksi antara dua atau lebih spesies yang berakibat saat salah satu pihak dirugikan (mendapat rintangan) sedangkan pihak lainnya tidak terpengaruh oleh adanya asosiasi.  Interaksi amensalisme sama dengan allelopati (pelepasan senyawa toksik ke lingkungan). Contoh,   Salvia leucophylla, yaitu suatu jenis semak yang dapat melepaskan senyawa kimia berupa terpenes. Terpenes yang dikeluarkan tumbuhan tersebut setelah masuk ke dalam tanah dapat menghambat peekecambahan dan pertumbuhan tumbuhan lainnya.
  4. Parasitisme, yaitu interaksi antara dua atau lebih spesies yang berakibat salah satu pihak (inang) dirugikan, sedangkan pihak lainnya (parasit) beruntung. Contoh, cacing tambang dan cacing perut yang hidup dalam usus manusia.
  5. Predasi (pemangsaan), yaitu interaksi antara dau atau lebih spesie yang salah satu pihak ( organisme yang dimangsa) dirugikan, dan pihak lainnya predator atau pemangsa) diuntungkan. Contoh, singa yang memangsa rusa.
  6. Komensalisme, yaitu interaksi antara dua atau lebih spesies yang salah satu pihak diuntungkan sedangakan pihak lainnya tidak terpengaruh oleh adanya asosiasi. Contoh, ikan ikan kecil yang hidup bersama dengan ikan hiu. Ikan-ikan ini disebut remora. Remora mendapat makanan sisa-sisa dari ikan hiu. Selain itu, mereka akan terlindungi dari predator yang akan memangsanya.Ikan hiu tidak merasa tergangu dengan kehadiran remora.
  7. Protokooperasi, yaitu interaksi anatara dua spesies atau lebih yang masing-masing saling memperoleh keuntungan adanya asosiasi, tetapi  asosiasi yang terjadi tidak merupakan keharusan. Contoh,  hubungan kerbau dengan burung bangau. Burung bangau bertengger di atas punggung kerbau dan mematuk kutu yang ada. Dari interaksi tersebut, bangau memperoleh makanan dan kutu yang menjadi hama pada kerbau berkurang, sehingga kerbau dapat hidup lebih sejahtera. Interaksi ini bukan suatu keharusan, artinya tanpa interaksi tersebut kerbau dan bangau tetap mampu mempertahankan hidupnya.
  8. Mutualisme, yaitu interaksi antara dua atau lebih spesies yang masing-masing saling memperoleh keuntungan engan adanya asosiasi, dan hubugan tersebut merupakan suatu keharusan untuk berasosiasi.Contoh, hubungan bunga kembang sepatu dengan serangga misalnya lebah. bunga di bantu penyebaran sporanya oleh kupu-kupu dan lebah memperoleh makanan dari bunga tersebut.
Persaingan Intra-Interspseifik

Persaingan Intraspesifik, yaitu persaingan yang terjadi antara organisme ang berspesies sama. Persaingan Interspesifik persaingan  memperebutkan sesuatu antara dua organisme atau sesies yang berbeda.

Sumber:
Irwan,Z.D. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi : Ekosistem, Libgkungan, dan Pelestariannya. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara
Indriyanto.2006.Ekologi Hutan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.


Tag: interkasi antar spesies, jenis-jenis interkasi antar spesies

Minggu, 03 Juni 2012

Faktor Pembatas dalam Lingkungan

Konsep Faktor Pembatas

Pertumbuhan organisme yang baik dapat tercapai bila faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan berimbang dan menguntungkan. Bila salah satu faktor lingkungan tidak seimbang dengan faktor lingkungan yang lain, faktor ini akan dapat menekan atau kadang-kadang menghentikan  pertumbuhan organisme. Prinsip ini disebut sebagai Prinsip Faktor Pembatas. 

Dengan mengetahui faktor pembatas suatu organisme dalam suatu ekosistem maka dapat diantisipasi kondisi-kondisi dimana organisme tidak dapat bertahan hidup dengan mengetahui batas toleransinya . 

Asas Faktor Pembatas

Semua  hewan dan tumbuhan cenderung untuk tumbuh, bereproduksi dan mati sampai dikurangi oleh pengaruh lingkungan, faktor yang mula-mula menghentikan pertumbuhan dan penyebaran dari organisme  (keadaan yang mana pun yang mendekati atau melampaui batas-batas toleransi)  disebut Faktor Pembatas. Namun  tidaklah mudah untuk memilih faktor pembatas dan kadang-kadang dua faktor atau lebih berpadu menjadi faktor pembatas.


1. Hukum minimum Liebig

    Untuk dapat bertahan dan hidup dalam keadaan tertentu, suatu organisme harus memiliki bahan-bahan yang penting yang diperlakukan untuk pertumbuhan dan berkembang biak. Keperluan-keperluan dasar ini bervariasi antara jenis dan keadaan. Di bawah keadaan-keadaan mantap bahan yang penting ang tersedia dalam jumlah paling dekat mendekati minimum yang diperlukan adalah merupakan pembatas. Hukum ini dikembangkan oleh Justus van Liebig (1840).


2. Hukum toleransi Shelford

    Keberhasilan dan kehadiran organisme tergantung kepada lengkapna kebutuhan yang diperlukan, termasuk unsur-unsur lingkungan yang kompleks. Ketiadaaan dan atau kegagalan suatu organisme dapat dikendalikan oleh kekurangan atau kelebihan secara kualitas atau kuantitatif daripada salah satu atau beberapa faktor yang mungkin mendekati batas-batas toleransi organisme itu.

    Suatu faktor atau beberapa faktor dikatakan penting apabila pada waktu tertentu faktor atau faktor-faktor itu sangat mempengaruhi hidup fan perkembangan tumbuh-tumbuhan, karena terdapat dalam batas minimum, maksimum dan optimum menurut batas-batas toleransi dari tumbuhan tersebut. Konsep ini dikemukakan oleh Shelford (1913). Jadi tidak hanya terlalu sedikit saja sesuatu itu merupakan faktor pembatas, akan tetapi juga dalam keadaan terlalu banyak  faktor juga merupakan pembatasan misalnya faktor-faktor panas, sinar, dan air. jadi organisme memiliki maksimum dan minimum ekologi, dengan kisaran di antaranya merupakan batas-batas toleransi.

     Dengan kata lain, besar populasi dan penyebaran suatu jenis makhluk hidup dapat dikendalikan dengan faktor yang melampaui batas toleransi maksimum atau minimum dan mendekati batas toleransi maka makhluk hidup atau populasi itu akan berada dalam keadaan tertekan /stres sehingga apabila melampaui batas itu yaitu lebih rendah dari batas toleransi minimum atau lebih tinggi dari batas tolerensi maksimum maka makhluk itu akan mati dan populasinya akan punah dari sistem tersebut.

Telah kita ketahi bahwa bila suatu faktor pembatas dapat diatasi maka akan timbul faktor pembatas lain. Bila salah satu dari faktor lingkungan kita ubah perubahan ini akan memperngaruhi atau mengubah komponen-komponen lain. Contohnya, bila suhu udara dalam rumah kaca dinaikkan 10˚C maka udara di dalam rumah kaca mengandung lebih banyak uap air. tekanan uap air dari permukaan cairan dalam ruangan akan bertambah, akibatnya laju transpirasi penguapan akan meningkat. Hal ini juga akan meningkakan laju transpirasi sehingga absorpsi air akan niak pula. Kadar air tanah menjadi berkurang, lebih banyak udara masuk ke dalam tanah dan menyebabkan tanah menjadi semakin kering. Reaksi berantai  ini dapat berulang-ulang.

Walaupun pertumbuhan suatu individu atau sekelompok organisme dipengaruhi oleh faktor pembatas, namun tidak dapat disangkal bahwa lingkungan benar-benar merupakan suatu kumpulan dari macam-macam faktor yang saling berinteraksi. Yakni jika satu faktor berubah maka hampir semua faktor lainnya ikut berubah.

Sumber:

Irwan,Z.D. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi : Ekosistem, Libgkungan, dan Pelestariannya. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara
Indriyanto.2006.Ekologi Hutan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.


Rabu, 30 Mei 2012

Konsep Ekosistem

Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan tak hidup di suatu tempat  yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan itu terjadi oleh adanya asrus materi dan energi yang terkendalikan oleh arus informasi  antara komponen dalam ekosistem itu. Masing-masing komponen itu mempunyai fungsi atau relung. Selama masing-masing komponen itu melakukan fungsinya dan bekerja sama dengan baik, keteraturan ekosistem itu pun terjaga. Keteraturan ekosistem menunjukkan, ekosistem tersebut ada dalam suatu keseimbangan tertentu. Keseimbangan itu tidaklah bersifat statis, melainkan dinamis. Artinya, ia selalu berubah-ubah dan perubahan itu bisa terjadi secara alamiah ataupun karena perbuatan manusia.

Arti Ekosistem

Istilah ekosistem pertama kali diusulkan oleh seorang ahli ekologi berkebangsaan Inggris bernama A. G. Tansley pada tahun 1935. Beberapa penulis lain telah menggunakan istilah berbeda, tetapi maksudnya sama dengan ekosistem, misalnya:
  • Tahun 1877 seorang ahli ekologi bangsa Jerman bernama Karl Mobius telah menulis tentang komunitas organisme dalam batu karang, dan menggunakan istilah yang mempunyai makna yang sama dengan ekosistem yaitu biocoenosis (biokoenosis).
  • Tahun 1887 seorang ahli ekologi berkebangsaan Amerika bernama S. A. Forbes telah menulis karangan kuno tentang danau, dan menggunakan istilah yang mempunyai makna sama dengan ekosistem, yaitu microcosm (mikrokosm).
  • Tahun 1930, Friederichs menggunakan istilah holocoen (holokoen).
  • Tahun 1939, Thienemann menggunakan istilah biosystem (biosistem).
  • Tahun 1944, Vernadsky menggunakan istilah bioenert/ body.
Berikut   ini beberapa defenisi mengenai ekosistem:
  • Menurut Undang-Undang Lingkungan Hidup (UULH) ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh meneluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Unsur-Unsur lingkungan hidup baik unsur biotik maupun abiotik, baik makhluk hidup maupun benda mati, semuanya tersusun sebagai satu kesatuan dalam ekosistem yang masing-masing tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa hidup sendiri, melainkan saling berhubungan, saling mempengaruhi, saling berinteraksi, sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan.
  • Ekosistem, yaitu suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
  • ekosistem, yaitu unit fungsional dasar dalam ekologi yang di dalamnya tercakup organisme dan lingkungannya (abiotik dan biotik) dan di antara keduanya saling mempengaruhi.
  • Ekosistem, yaitu tatanan kesatuan secara kompleks di dalamnya terdapat habitat, tumbuhan, dan binatang yang dipertimbangkan sebagai unit kesatuan secara utuh, sehingga semuanya akan menjadi bagian mata rantai siklus materi dan aliran energi.
Komponen Ekosistem

Semua ekosistem, baik ekosistem terestrial (daratan) maupun akuatik (perairan) terdiri atas komponen-komponen yang dapat dikelompokkan berdasarkan segi tropik atau nutrisi dan segi struktur dasar ekosistem.

Berdasarkan atas segi struktur dasar ekosistem maka komponen ekosistem terdiri atas dua jenis sebagai berikut:
  1. Komponen biotik (komponen makhluk hidup), misalnya binatang, tumbuhan, dan mikroba.
  2. Komponen abiotik (komponen benda mati), misalnya air, udara dan tanah.
Berdasarkan segi trofik atau nutrisi maka komponen biotik dalam ekosistem terdiri atas dua jenis sebagai berikut.
  1. Komponen autotrofik , yaitu organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis makanannya sendiri berupa bahan organik berasal dari bahan-bahan anorganik dengan bantuan klorofil dan energi utama berupa radiasi matahari. Organisme yang termasuk dalam komponen ini adalah golongan tumbuhan.
  2. Komponen heterotrofik, yaitu organisme yang hidupnya selalu memanfaatkan bahan organik sebagai bahan makanannya, sedangkan bahan organik yang dimanfaatkan itu disediakan oleh organisme lain. Jadi, komponen heterotrofik memperoleh bahan makanan dari komponen autotrofik, kemudian sebagian anggota komponen ini akan menguraikan bahan organik kompleks ke dalam bentuk bahan anorganik yang sederhana. Dengan demikian, binatang, jamur, jasad renik termasuk ke dalam golongan komponen heterotrofik.
Berdasarkan dari segi penyusunnya, omponen ekosistem terdiri atas:
  1. Komponen abiotik (benda mati), yaitu komponen fisik dan kimia ang terdiri atas tanah, udara, air, sinar matahari dan lain sebagainya.
  2. Komponen produsen, yaitu organisme autotrofik yang pada umumnya berupa tumbuhan hijau. Produsen menggunakan energi radiasi matahari dalam proses fotosintesis, sehingga mampu mengasimilasi CO2 dan H2O menghasilkan energi kimia yang tersimpan dalam karbohidrat. Komponen konsumen, yaitu organisme heterotrofik misalnya bianatang dan manusia yang makan organisme lainnya. Konsumen dapat digolongkan menjadi:
    • konsumen pertama, yaitu binatang  yang makan tetumbuhan hijau
    • konsumen kedua adalah golongan karnivora kecil dan omnivora.
    • konsumen ketiga, golongan karnivora besar
    • mikrokonsumen adalah tumbuhan atau binatang yang hidupnya sebagai parasit maupun saproba.
  3. Komponen pengurai, yaitu mikroorganisme yang hidupnya bergantung kepada bahan organik dari organisme mati. Berdasarkan atas tahap dalam proses penguraian bahan organik dari organisme mati maka organisme pengurai terbagi atas dekomposer dan transformer. Dekomposer, yaitu mikroorganisme yang menyerang bangkai hewan dan sisa tumbuhan mati, kemudian memecah bahan organik kompleks ke dalam ikatan yang lebih sederhana, dan proses dekomposisi itu disebut humifikasi yang menghasilkan humus.Transformer, yaitu mikroorganisme yang meneruskan proses dekomposisi dengan mengubah ikatan organik sederhana ke dalam bentuk bahan anorganik yang siap dimanfaatkan lagi oleh produsen dan proses dekomposisi itu disebut minerealisasi yang menghasilkan zat hara.
 Keseimbangan dalam Ekosistem

Ekosistem mempunyai keteraturan, berwujud sebagai kemampuan untuk memilhara diri-sendiri, mengatur sendiri, serta mengadakan keseimbangan kembali. Oleh karena itu dalam sistem kehidupan ada kecenderungan untuk melawan perubahan atau usaha agar berada dalam suatu keseimbangan (homeostatis). Homeostatis ini merupakan kemampuan ekosistem untuk menahan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan. 

Kondisi ekosistem dalam keseimbangan (homeostatis) mempunyai arti bahwa ekosistem itu telah mantap atau telah mencapai klimaks, sehingga ekosistem mempunyai daya tahan yang besar untuk menghadapi  berbagai gangguan yang menimpanya.

Berkaitan dengan daya tahan ekosistem seperti tersebut, di dalam ekologi terdapat istilah yang dikenal dengan daya lenting. Daya lenting merupakan sifat suatu ekosistem yang memberikan kemungkinan ekosistem tersebut pulih kembali ke keseimbangan semula setelah mengalami gangguan. Kendatipun suatu ekosistem memiliki daya lenting yang besar, akan tetapi pada umumnya batas mekanisme keseimbangan dinamis masih dapat ditembus oleh kegiatan manusia.

Habitat dan Relung

Habitat adalah tempat hidup makhluk hidup. Misalnya ikan mas habitatnya di air tawar, pohon bakau mempunyai habitat di pantai yang berlumpur dan tanah salinitas dan membutuhkan arus yang tenang. Setiap makhluk hidup mempunyai habitat yang sesuai dengan kebutuhannya. Apabila terjadi gangguan atau perubahan yang cepat makhluk tersebut mungkin akan mati atau pergi mencari habitat lain yang cocok. Misalnya, jika terjadi arus terus-menerus di pantai habitat bakau, dapat dipastikan bakau tersebut akan mati. tetapi jika terjadi perubahan secara perlahan, lama kelamaan makhluk hidup tersebut akan berusaha melakukan penyesuaian diri (adaptasi) yang memungkinkan terjadinya jenis baru dari makhluk tersebut. Habitat dapat disebut alamat makhluk hidup dan setiap makhluk hidup dapat mempunyai lebih dari satu habitat.

Relung atau niche merupakan cara hidup makhluk hidup dalam habitatnya. Seperti burung ada yang memakan serangga, buah maupun biji. Relung suatu organisme ditentukan oleh tempat hidupnya dan oleh berbagai fungsi yang dikerjakannya sehingga dikatakan sebagai profesi organisme dalam habitatnya. Berbagai organisme dapat hidup bersama dalam satu habitat. akan tetapi, jika dua atau lebih organisme mempunyai relung yang sama dalam satu habitat maka akan terjadi persaingan. Makin besar kesamaan relung dari organisme-organisme yang hidup bersama dalam satu habitat maka akan intensif persaingannya.

Sumber:
Irwan, Z.D. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi : Ekosistem, Lingkungan, dan Pelestariannya. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara
Soemarwoto, O. 2004. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Tags:

Senin, 28 Mei 2012

Ekologi Dasar

Pengertian Ekologi

Ekologi berasal dari bahasa Yunani 'oikos' (rumah atau tempat hidup) dan 'logos' yang berarti ilmu. Secara harfiah ekologi adalah pengkajian hubungan organisme-organisme atau kelompok organisme terhadap lingkungannya.  Menurut (Indriyanto, 2006) ekologi adalah ilmu pengetahuan mengenai hubungan antara organisme dengan lingkungannya. Dapat juga di definisikan bahwa ekologi adalah ilmu yang mempelajari pengaruh pengaruh faktor lingkungan terhadapa makhluk hidup. Bahkan menurut Irwan (2007) ekologi adalah suatu ilmu yang mencoba mempelajari hubungan antara tumbuhan, binatang dan manusia dengan lingkungannya di mana mereka hidup, bagaimana kehidupannya dan mengapa mereka ada di tempat tersebut.

Arah Ekologi

Pada dasarnya ekologi adalah ilmu dasar yang tidak mempraktekkan sesuatu. Ekologi adalah ilmu tempat mempertanyakan dan menyelidik. Seseorang yang belajar ekologi sebenarnya bertanya tentang berbagai hal sebagai berikut:
  1. Bagaimana alam bekerja
  2. Bagaimana suatu spesies beradaptasi dalam habitatnya
  3. Apa yang mereka perlakukan dari habitatnya itu untuk dapat dimanfaatkan guna melangsungkan kehidupan
  4. Bagaimana mereka mencukupi kebutuhannya akan unsur hara dan energi
  5. Bagaimana mereke aberinteraksi dengan spesies lainnya
  6. Bagaimana individu-individu dalam spesie lainnya
  7. Bagaimana keindahan ekosistem tercipta
Pembagian Ekologi

Berdasarkan atas komposisi jenis organisme yang dikaji maka Ekologi dapat dibagi menjadi:
  1. Autekologi, membahas pengkajian individu organisme atau individu spesies yang penekanannya pada sejarah-sejarah hidup dan kelakuan dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Misalnya, mempelajari sejarah hidup suatu spesies, perilaku maupun adaptasinya terhadap lingkungan.
  2. Sinekologi, membahas pengkajian golongan atau kumpulan organisme-organisme sebagai satuan. Misalnya, mempelajari struktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, atau taman nasional.
Berdasarkan atas habitat suatu spesies atau kelompok spseie organisme maka ekologi dapat digolongkan sebagai berikut:
  1. Ekologi daratan (terestrial), yaitu mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lainnya serta dengan semua wilayah daratan tegalan, kebun, ladang, hutan lahan kering, padang rumput, atau gurun.
  2. Ekologi air tawar (freshwater), yaitu mempelajari hubungan timbal balik antara organisme lainnya serta dengan semua komponen lingkungan yang ada di wilayah perairan tawar. Contoh wilayah perairan tawar adalah danau, sungai, kolam, sumur, rawa atau sawah.
  3. Ekologi bahari, yaitu mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lainnya serta dengan semua komponen lingkungan yang ada di wilayah perairan asin atau lautan
  4. Ekologi estuarin, yaitu mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lainnya serta dengan semua komponenlingkungan yang ada di wilayah perairan payau. Contoh wilayah perairan payau adalah muara sungai, teluk dan laguna.
  5. Ekologi hutan, yaitu mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lainnya serta dengan semua komponen lingkungan yang ada di ekosistem hutan.
  6. Ekologi padang rumput, yaitu mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lainnya serta dengan semua komponen lingkungan yang ada di ekosistem padang rumput.
Berdasarkan taksonomi atau sistematikanya, ekologi dibedakan menjadi:
  1. Ekologi tumbuhan
  2. Ekologi serangga
  3. Ekologi burung
  4. Ekologi vertebrata
  5. Ekologi mikroba
Hubungan Ekologi dengan Ilmu-Ilmu Lainnya

Penyebaran adaptasi  dan aspek-aspek fungsi organisme dari komunitas banyak dipelajari dalam ekologi dan erat hubungannya dengan ilmu-ilmu biologi lainnya seperti taksonomi misalnya untuk mengetahui spesies pohon dan tetumbuhan lainnya dalam hutan dibutuhkan sifat generatif yang berdasar pada sifat-sifat bunga dan buah. Untuk pengenalan spesies tumbuhan tersebut diperlukan buku-buku praktis mengenai flora dan pengenalan spesie pohon. Begitupun dalam ilmu genetika, seperi yang kita tahu bahwa ilmu genetika mempunyai peranan besar dalam memahami pertumbuhan dan perkembangan  makhluk hidup. Pengaruh genetik dari tumbuhan atau hewan yang satu terhadap tumbuhan lainnya dapat diketahui dengan ilmu genetika. Apabila dua atau lebih tumbuhan yang hidup berdekatan akan menyebabkan terjadinya perkawainan silang atau hibridisasi di antara mereka. Akibat perkawinan silang ini akan muncul keturunan baru yang memiliki sifat hampir sama dengan kedua induknya. Untuk itu, pengetahuan tentang genetika diperlukan untuk mengenal sifat-sifat berbagai spesies tumbuhan dan makhluk hidup yang lain termasuk sifat-sifat ekologinya.

Selain itu, ekologi juga memiliki peranan pendalam ilmu tanah. Kesuburan tanah mempengaruhi keadaan tumbuh-tumbuhan yang tumbh di atasnya. Kesuburan tanah akan berpengaruh terhadap tipe vegetasi yang terbentuk serta berpengaruh terhadap keproduktifan hutan. Oleh karena itu, tanah merupakan salah satu faktor pembatas alam dan mempengaruhi pertumbuhan semua spesies tumbuhan, struktur dan komposisi vegetasi sehingga  bisa memberikan pengaruh pada tipe hutan.

Dari segi ilmu iklim atau klimatologi, pengaruhnya terhadap kehidupan tetumbuhan sangat nyata, terlebih lagi iklim mikro di suatu tempat yang bergantung kepada keadaan topografi dan kondisi atmosfer karena kondisi atmosfer juga ikut menentukan sifat iklim setempat dan regional. Adanya perbedaan iklim akan menimbulkan variasi dalam komunitas hutan.

Sumber:
Irwan, Z.D. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi : Ekosistem, Lingkungan, dan Pelestariannya. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Tags:

Ekologi, , Pengertian Ekologi, Arah Ekologi, Pembagian Ekologi, Jenis-Jenis Ekologi, Hubungan Ekologi dengan ilmu Lain, Autekologi, Sinekologi


Jumat, 27 Januari 2012

Sistem Saraf Pusat (SSP)

Sharing Ilmu Bio



Sistem Saraf Pusat (SSP), terdiri atas Otak dan Sum-Sum Tulang Belakang


Otak 

Otak manusia mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh, mengkonsumsi 25% oksigen, dan menerima 1,5% curah jantung.
  • Pertumbuhan embrionik. 
Sistem saraf primitif mulai terbentuk dalam minggu ketiga kehidupan embrionik. Penebalan lempeng saraf mulai terlihat pada garis tengah bagian dorsal aksis embrio. Semua jaringan saraf berasal dari lempeng saraf ini. Lempeng saraf berinvaginasi untuk membentuk ceruk saraf dan dua lipatan saraf. Setelah minggu keempat kehamilan, tepi superior pada lipatan menyatu di bagian tengahnya untuk membentuk tabung saraf. Tabung saraf ini nantinya yang akan berkembang membentuk otak dan medula spinalis. Lapisan sel pada tabung saraf membentuk ependim, substansi abu-abu dan substansi putih. Bagian kranial pada tabung saraf membentuk tiga pembesaran  (vesikel) yang berdiferensiasi  utnuk membentuk otak; otak depan, otak tengah dan otak belakang. 
  • Bagian-bagian Otak
  1. Otak Besar (Cerebrum), Otak besar ini terdiri atas beberapa  bagian (Lobus), yaitu:
      • Lobus Frontalis (bagian dahi) berperan penting sebagai pusat koordinasi, pengendali gerak otot, ingatan, kesadaran, kreativitas, dan beberapa pengendali saraf lainnya.
      • Lobus  temporalis (bagian pelipis) berperan penting sebagai pusat pendengaran dan kemampuan berbicara
      • Lobus parietalis (bagian ubun-ubun) berperan sebagai penerima rangsangan panas, dingin, tekanan dan sentuhan
      • Lobus oksipitalis (bagian belakang kepala) berperan sebagai pusat penglihatan
  2. Otak Tengah (Mesencephalon). Terdapat saraf okulootoris, yaitu saraf yang berhubungan dengan pergerakan mata sehingga peranotak tengah sangat erat hubungannya dengan penglihatan mata.
  3. Otak Depan (Proensefalon), terbagi menjadi dua subdivisi, telensefalon dan diensefalon. Telensefalon merupakan awal nemisfer serebral atau serebrum dan basal ganglia, serta korpus siriatum (substansi abu-abu serebrum). Diensefalon menjadi talamus, hipotalamus, dan epitalamus.
      • Hipotalamus, yaitu bagian pengatur suhu, nutrien, rasa kantuk, dan tekanan darah .
      • Talamus, yaitu bagian penerima semua rangsangan dari sraf perifer (reseptor)
      • Infundibulum, yaitu bagian dari pangkal hipofisis (kelenjar endokrin)
  4. Otak Kecil (Cereblum) . Bagian  terluas kedua setelah otak besar, berfungsi sebagai pusat keseimbangan tubuh dan koordinasi gerak otot.
  5. Sumsum tulang belakang (Medula oblongata). Memiliki fungsi yang sangat besar, yaitu sebagai pusat pengatur refleks (misal, kedipan mata), mengoordinir saraf yang mengatur denyut jantung, pernapasan, pelebaran, dan penyempitan pmbuluh darah. Kerusakan bagian ini akan menyebabkan kematian.
  • Lapisan Pelindung.  Otak memiliki lapisan pelindung yang terdiri dari rangka tulang bagian luar dan tiga lapisan jaringan ikat yang disebut meninges. Lapisan meninges terdiri dari pia meter, lapisan araknoid, dan dura meter.
    1. Pia meter adalah lapisan  terdalam yang halus dan tipis, serta melekat erat pada otak. lapisan ini mengandung banyak pembuluh darah untuk mensuplai jaringan saraf.
    2. Lapisan araknoid (tengah) terletak di bagian eksternal pia meter dan mengandung sedikit pembuluh darah.
    3. Dura meter adalah lapisan terluar yang tebal dan terdiri dari dua lapisan. Lapisan  ini biasanya terus bersambungan, tetapi terputus pada beberapa sisi spesifik. Lapisan itu ialah lapisan periosteal luar (melekat di permukaan dalam kranium dan berperan sebagai periosteum dalam tulang tengkorak) dan lapisan meningel dalam (tertanam  sampai ke dalam fisura otak).

www.brainhealthandpuzzles.com/diagram_of_brain.html


Sumsum Tulang Belakang (Medula spinalis)

Medula spinalis merupakan lanjutan dari sum-sum lanjutan, berbentuk silinder berongga dan agak pipih. Walaupun diameter medulla spinalis bervariasi, diameter struktur ini biasanya sekitarukuran jari kelingking. Panjang rata-rata 42 cm. Medulla spinalis ini berfungsi untuk :
  1. Mengendalikan berbagai aktivitas refleks dalam tubuh
  2. Bagian ini mentransmisi impuls ke dan dari otak melalui traktus asenden dan desenden

Sumber: Ethel SLoane. Anatomi dan Fisiologi.ECG, Jakarta. 2003. Super Bank Soal Biologi. Basuki Utami, S.Pd. PT Wahyu Media. 2010

Tags:  Sistem saraf pusat, Otak dan Sumsum tulang belakang, Perkembangan embrionik dari otak, Bagian-Bagian otak, Bagian-bagian dan Fungsidari otak besar
, Fungsi otak tengah, Bagian-bagian otak depan dan fungsinya, Fungsi otak kecil, Sumsum lanjutan, Lapisan otak/a>, Fungsi sumsum tulang belakang

Kamis, 26 Januari 2012

Haaachii!!! Ini Selesma atau Flu?

 Sharing Ilmu Bio

Pilek /hidung meler merupakan kondisi yang biasa  kita derita, apa lagi di musim hujan begini ditambah kondisi tubuh  yang lelah, daya tahan tubuh yang menurun maka virus akan sangat mudah masuk ke tubuh kita dan menyebabkan kita terserang penyakit tersebut. Hidung meler pada umumnya terjadi pada awal selesma. Di kalangan masyarakat istilah selesma sendiri disama artikan dengan flu akan tetapi keduanya tidaklah sama. Berikut beberapa hal yang memperlihatkan perbedaan  antara flu dengan salesma.

Pembeda Selesma Flu, Influenza
Gejala biasa
  • Hidung meler, bersin-bersin, hidung tersumbat
  • Batuk
  • Tak ada demam atau hangat
  • Agak lesu






  • Hidung meler, bersin-bersin   
  • Radang tenggorokan dan sakit kepala
  • Batuk
  • Demam (biasanya lebih dari 38 C) dan kedinginan
  • Rasa lelah dan lemah yang sedang sampai hebat
  • Otot terasa sakit
PenyebabSatu dari 200 lebih virus yang biasa menyebabkan 2-4 jenis selesma setiap tahun pada orang dewasa dan 4-8 kali setahun pada anak-anakSatu dari beberapa  virus dari jenis flu A atau flu B. Rata-rata seorang dewasa mengalami infekai kurang dari satu kali dalam setahun

 Keseriusan Biasanya tidak serius, kecuali pada penderita penyakit paru-paru atau penyakit berat lainnya Bisa serius. Terutama pada orang lanjut usia dan pada orang yang mempunyai kondisi kesehatan kronis
PencegahanAda kemungkinana bisa dicegah dengan mencuci tangan, tidak berbagi handuk, makanan atau saputangan.Biasanya bisa dicegah dengan vaksinasi. Anda perlu diimunisasi menjelang musim penghujan
Penggunaan antibiotikTidak menolong, kecuali Anda juga mengalami infeksi bakteriKadang-kadang bisa menolong. Untuk ini ada dia jenis antibiotik antivirus yang tersedia, tapi hanya ampuh untuk flu A
Perawatan sendiri
  • Perbanyak minum air hangat bisa membantu menghilangkan lendir
  • Perbanyak istirahat
  • Minum obat selesme secara seksama seperti ekspekoran, antitusif


.
  • Banyaklah minum cairan untuk menghindari dehidrasi
  • Perbanyak istirahat
  • Gunakan obat bebas penghilang rasa sakit dengan hati-hati, seperti aspirin untuk menghilangkan rasa nyeri dan demam.









Sumber: Mayo Clinic. Philip T. HAgen. Intisari. 2002


Tags:  Selesma, Flu, Selesma dan Flu, Influenza, Gejala Selesma, Gejala flu,Penyebab selesma, Penyebab Flu, Perbedaan antara Selesma dan Flu, Perbedaan antara Selesma dan Influenza, Hal-hal yag membedakan Selesma dengan Flu, Hidung meler/pilek

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More